Kesenian merupakan sebuah warisan budaya yang patut dilestarikan. Kesenian juga dapat diartikan sebagai perwujudan dari sebuah kebudayaan masyarakat. Seni juga digunakan sebagai media renungan yang bersifat spiritualistik. Kesenian sarat akan arti simbolik yang memancarkan nilai-nilai seperti estetis, etis, romantis, moralitas dan religius. Dengan perantara seni, seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhannya. Terdapat beberapa kesenian daerah yang ada di Kabupaten Purbalingga diantaranya adalah Tari Dames, Angguk, Ebeg, Calung Lengger dan lain lain. Untuk kesenian Tari Angguk masih jarang yang mengetahuinya, padahal di kalangan masyarakat sekitar Desa Pasunggingan kesenian ini sangat merakyat. Dalam satu kecamatan hanya ada satu kelompok kesenian Tari Angguk yang terletak di Desa Pasunggingan yang bernama Tari Angguk Sri Rahayu yang dikelola oleh Bapak Maryoto.

Tari Angguk Sri Rahayu adalah kesenian bernafaskan Islami dikarenakan syair lagu, tujuan diciptakan dan alat musik yang digunakan pada kesenian ini merupakan ciri-ciri kesenian Islami. Kesenian ini dinamakan Angguk dikarenakan gerakan kepala yang mengangguk angguk yang merupakan bentuk penghormatan kaum Muslimin saat saling bertemu. Menurut ketua sekaligus dalang dari Tari Angguk Sri Rahayu, Bapak Maryoto mengatakan bahwa kesenian Tari Angguk sudah ada sejak zaman dahulu pada tahun 1943. Nama Sri Rahayu sendiri mempunyai arti kalis ing sambekolo yaitu jauh dari bahaya dan supaya setiap pertunjukan Tari Angguk selalu selamat dan dijauhkan dari bahaya. Adapun makna "Sri" yaitu kumpulan dan "Rahayu" berarti selamat dan baik. Tari Angguk dibawakan oleh delapan orang laki laki, namun bisa juga ditarikan oleh perempuan. Dua penari dibagian depan disebut barong atau mbarep, empat penari sebagai prajurit dan dua penari sebagai buntil atau kecer. Kesenian ini menggunakan iringan alat musik berupa rebana, bedug dan kendang. Tidak diperkenankan untuk menambah atau mengurangi alat musik yang digunakan. 

Tari Angguk mempunyai fungsi sebagai media hiburan atau pertunjukan. Di sisi lain kesenian ini juga berfungsi sebagai media syiar agama dan sebagai media pendidikan. Bentuk penyajian dalam Tari Angguk dibagi menjadi dua, yaitu dalang membacakan kitab Al-Barzanji yang kemudian ketika sudah selesai dilanjutkan dengan Tari Angguk. Dalam praktiknya, Tari Angguk mempunyai ragam gerakan berupa gerak mlampah awal, sembahan, "hormat pada tuan", godheg (lelucon) dan mlampah akhir. Tata rias yang digunakan pada Tari Angguk menggunakan tata rias sederhana namun bagian alis dibuat tidak terlalu lebar, bagian dahi diberi urna (riasan di bagian dahi berbentuk seperti garis tebal berwarna hitam), bibir menggunakan lipstik berwarna merah dan pada bagian garis bibir diberi garis hitam untuk memberi kesan tegas pada bibir serta pada bawah bibir diberi bentuk seperti jenggot kecil berwarna hitam. Awalnya, tarian ini tidak menggunakan riasan wajah namun hanya menggunakan celana kain panjang dan bagian kepala menggunakan peci. Seiring dengan perkembangan zaman, Tari Angguk mengalami perubahan warna yang digunakan dominan dengan warna merah yang mempunyai makna keberanian dan menarik. Tata busana yang digunakan dibagian kepala menggunakan jamang bledegan, untuk bajunya menggunakan baju dengan lengan 3/4 dibalut dengan jarit, serta memakai kaos kaki. Busana dari Tari Angguk menurut ketua kelompok kesenian Tari Angguk Sri Rahayu mengatakan bahwa perubahan yang terjadi pada busana yang digunakan bertujuan untuk meningkatkan daya tarik. Enam penari mbarep dan prajurit busananya dibuat sama sedangkan buntil/kecer busananya dibuat berbeda untuk penanda bahwa nanti bagian akhir, penari buntil/kecer akan melakukan gerak lelucon.


Source: Hestiningsih, Novinalia. 2018. "Makna Simbolik Tari Angguk Sri Rahayu Di Desa Pasunggingan Kecamatan Pengadegan Kabupaten Purbalingga".